selamat Datang

silahkan baca,,silahkan ambil ilmunya semoga bermanfaaat..

Rabu, 09 Februari 2011

RAKIT APUNG

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam budidaya secara hidroponik, tanaman mendapatkan makanan atau nutrisi dari larutan yang disiramkan pada media tanam. Dengan demikian tanaman tetap mendapatkan nutrisi untuk pertumbuhannya. Larutan pupuk atau nutrisi yang disiramkan pada media bisa bermacam-macam.
Rakit apung atau Floating hidroponik sistem (FHS) adalah salah satu sistem budidaya secara hidroponik tanaman (sayuran, terutama) dengan cara menanam tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung di atas permukaan larutan nutrisi dalam bak penampung atau kolam sehingga akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi. Karakteristik system ini antara lain adalah terisolasinya lingkungan perakaran sehingga fluktuasi suhu larutan nutrisi akan lebih rendah.
Pada sistem ini larutan tidak disirkulasikan, namun dibiarkan tergenang dan ditempatkan dalam suatu wadah tertentu untuk menampung larutan tersebut. Dengan demikian sistem ini dapat dimungkinkan tanaman akan kekurangan oksigen, yang nantinya akan merubah pH larutan. Dengan berubahnya pH larutan maka akan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik karena penyerapan nutrisi oleh tanaman kurang optimal.
2. Tujuan
Tujuan dari praktikum uji macam nutrisi pada sistem rakit apung adalah mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pertumbuhan tanaman dalam sistem rakit apung.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Floating hidroponik sistem (FHS) adalah budidaya tanaman (terutama sayuran) dengan cara menanam tanaman pada lubang styrofoam yang mengapung di atas permukaan larutan nutrisi dalam bak penampung atau kolam. Dalam sistem ini akar tanaman terendam dalam larutan nutrisi (Hartus, 2007 ).
Teknik hidroponik sistem rakit apung adalah menanam tanaman pada suatu rakit yang dapat mengapung di atas permukaan air atau nutrisi dengan akar menjuntai kedalam air. Styrofoam diambangkan pada kolam larutan nutrisi sedalam kurang lebih 30 cm. Pada styrofoam diberi lubang tanam dan bibit ditancapkan dengan bantuan busa atau rockwool (Sutiyoso, 2003).
Pada sistem FHS larutan nutrisi tidak disirkulasikan, namun dibiarkan pada bak penampung dan dapat digunakan lagi dengan cara mengontrol kepekatan larutan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini perlu dilakukan karena dalam jangka yang cukup lama akan terjadi pengkristalan dan pengendapan pupuk cair dalam dasar kolam yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Sistem ini mempunyai beberapa karakteristik seperti terisolasinya lingkungan perakaran yang mengakibatkan fluktuasi suhu larutan nutrisi lebih rendah, dapat digunakan untuk daerah yang sumber energi listriknya terbatas karena energi yang dibutuhkan tidak terlalu tergantung pada energi listrik (mungkin hanya untuk mengalirkan larutan nutrisi dan pengadukan larutan nutrisi saja) (Falah, 2006).
Selain harus tetap menjaga sirkulasi larutan nutrisi juga perlu diperhitungkan konsentrasi larutan nutrisi karena hal tersebut sangat mempengaruhi perkembangan tanaman. Konsentrasi larutan nutrisi dapat diperoleh dengan mengetahui nilai EC (Electric Conductivity). Nilai EC dapat didapat dengan cara mengukur nilai resistensi pada larutan nutrisi. Tidak hanya kelangsungan sirkulasi larutan yang memegang peranan penting tetapi juga konsentrasi larutan dapat diketahui dengan mengukur nilai EC (dengan menggunakan EC meter) (Ridho’ah dan Hidayati, 2005).
Selain EC dan konsentrasi larutan nutrisi, suhu dan pH merupakan komponen yang sering dikontrol untuk dipertahankan pada tingkat tertentu untuk optimalisasi tanaman. Suhu dan pH larutan nutrisi dikontrol dengan tujuan agar perubahan yang terjadi oleh penyerapan air dan ion nutrisi tanaman dapat dipertahankan (Susila, 2000 ).
C. METODE PRAKTIKUM
1. Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum hidroponik sistem rakit apung bertempat di Laboratorium Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta dan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 3 Oktober 2010 pukul 15.00 – 16.30 WIB.
2. Alat dan Bahan
a. Kolam Nutrisi
b. Nutrisi (AB Mix)
c. Bibit tanaman kangkung, bayam merah dan bawang
3. Cara Kerja
a. Menyiapkan bibit tanaman sayuran
b. Menanam bibit pada lubang tanam
c. Memelihara tanaman (perlu penambahan nutrisi)
d. Pengamatan terhadap komponen pertumbuhan
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Data Rekapan Tinggi Tanaman pada Hidroponik Rakit Apung
MST Tinggi Tanaman
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
0 0 7,5 1,7 8,3 5,13 6,42 3,96 2,35 3,2 0 0 0
1 5,85 9,75 4,75 12,2 5,88 11,2 5,2 3,70 3,8 5,93 5,57 5,25
2 8,65 19,7 34,5 11,3 6,66 15,5 4,35 4,65 4,38 5,32 14,2 13,5
3 20,1 52 49 11,4 6,75 20,9 3,38 5,73 5,63 5,55 14,5 17,4
4 54 92,5 54,3 13 7 26,9 3 6,49 6,88 9,1 20,9 18,1
5 136 - 61,8 - - - 4,12 6,74 - 7,63 27,4 33
∑ 224 181 172 56,3 31,4 80,9 20,1 24,7 23,9 33,5 82,6 87,4
x 44,7 36,3 34,3 11,3 6,28 16,2 4,01 4,94 4,78 6,71 16,5 17,5
X tot 31,65 8,82 5,57 16,9
Sumber : Laporan Sementara

Gambar 1.1 Tinggi Rekapan Semua Jenis Tanaman

Tabel 1.2 Data Rekapan Jumlah Daun pada Hidroponik Rakit Apung
MST Jumlah Daun
Kangkung Bayam Kailan Daun Bawang
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3 1 2
0 0 3 0 2 3 5,75 6,75 5,75 8 0 0 0
1 2,75 4,25 5 8,5 9 6,5 5 7,75 9 10 1 0
2 4 5,25 18,8 11,5 15 6,75 7 4,25 10 8 1 0
3 25 10,5 32,7 29 23 5 6 5,5 11 11 1 1
4 79,25 11,3 82,5 38,7 18 7 - 6,1 17 10 2 2
5 80,25 - - 85,5 - 8,5 - - - 13 3 3
∑ 191 34,3 174 146 68 39,5 24,8 29,4 55 52 8 6
x 38,3 6,85 34,7 29,2 14 7,9 4,95 5,87 11 10,4 8 1,5
X tot 27,76 8,81 9,09 1,55
Sumber : Laporan Sementara

Gambar 1.2 Rekapan Jumlah Daun Semua Jenis Tanaman Hidroponik Rakit Apung





Tabel 1.3 Pengamatan Berat Basah dan Panjang Akar Kailan
No Berat Basah (gram) Panjang Akar (cm)
1 11,59 8,7
2 17,80 11,5
3 17,95 15,5
4 14,94 8,3
X 15,75 11
Sumber : Laporan Sementara
2. Pembahasan
Kualitas larutan nutrisi dapat diketahui dengan mengukur electrical conductivity (EC). Semakin tinggi konsentrasi larutan semakin tinggi arus listrik yang dihantarkan karena pekatnya kandungan garam dan akumulasi ion mempengaruhi kemampuan untuk menghantarkan listrik larutan nutrisi tersebut. Pada budidaya kailan ini EC kita 1,8 dan pH 4,5. Dengan nilai EC dan pH yang sedemikian tersebut maka EC dan pH yang kita gunakan sudah bisa dibilang cukup untuk budidaya kailan (Sayuran) walaupun EC 1,8 bukan EC yang ideal untuk tanaman sayuran. Artinya EC tersebut tidak terlalu tinggi. Namun untuk EC paling ideal untuk tanaman sayuran adalah 2,5 - 3,2. Dengan EC tinggi berarti kepekatan larutan juga tinggi, sehingga daya serap tanaman terhadap unsur hara dari larutan juga berkurang sehingga pertumbuhan tanaman juga terhambat. Untuk pH ideal untuk hidroponik sayuran adalah 4,5 - 5,5, sehingga untuk hidroponik rakit apung ini pH tanaman ideal.
Dari pengamatan kelompok kita diketahui bahwa kailan yang dibudidayakan dengan hidroponik apung adalah bertumbuh baik, karena dari minggu ke minggu setelah tanam berkembang dengan baik, tinggi dan jumlah daun pada tanaman kailan ini sudah lebih dari cukup, dengan tinggi kailan yang 6,875cm dan jumlah daun 17 pada minggu 4. Karena jika tinggi kailan lebih dari itu dan panen diundur itu justru tidak optimal untuk budidaya kailan. Bila dibandingkan dengan ulangan kailan dari kelompok lain, kailan kelompok 8 (sampel 2) ini jika dari segi tinggi lebih tinggi dari sampel 1 dan tidak lebih tinggi dari sampel 3. Namun kailan sampel 3 tersebut jika untuk ukuran kailan, tinggi tersebut terlalu tinggi.
Dari hasil rekapitulasi data semua kelompok pada tanaman kangkung, bawang, kailan dan daun bawang diketahui bahwa yang mengalami perkembang tinggi yang pesat adalah kangkung dengan rata-rata tinggi 31,645 cm, dan yang mengalami perkembangan yang paling lambat adalah kailan dengan tinggi rata-rata 5,47 cm.
Dari tabel 1.3 pengamatan berat basah kailan dan panjang akar diketahui bahwa panjang akar dan berat basah berkolerasi lurus, semakin berat bragkasan kailan, semakin tinggi pula panjang akar. Dari tabel 1.3 diketahui berat brangkasan tertinggi pada sampel 14 yaitu 17,59 gram dan panjang akar 15,5 cm. Daun bawag dan kangkung pertumbuhannya setelah minggu ke-4 mengalami kenaikan pertumbuhan yang konstan. Dari keempat tanaman tersebut yang mempunyai pertumbuhan yang baik adalah kangkung. Pertumbuhan kangkung rata-rata pada minggu terakhir pengamatan tingginya 31,65 cm dan jumlah daun rata-rata 27,76.
Pertumbuhan adalah proses kehidupan tanaman yang mengakibatkan perubahan ukuran tanaman semakin besar dan menentukan hasil pada tanaman. Tinggi tanaman merupakan ukuran yang sering diamati sebagai indikator pertumbuhan. Variable tinggi tanaman yang digunakan untuk mengukur pengaruh lingkungan ataupun perlakuan yang diterapkan (Tanjung, 2007).
E. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Dari praktikumHidroponik system rakit apung dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
a. Tinggi tanaman rata-rata kailan kelompok 8 adalah 4,78 cm.
b. Dibandingkan tanaman yang lain, kangkung, bayam dan daun bawang, tinggi tanamna kailan paling rendah yaitu dengan rata-rata 5,47 cm. Dibanding dengan tinggi kangkung dengan rata-rata 31,645 cm.
c. Dari praktikum hidroponik sistem rakit apung didapatkan rata-rata berat basah tanaman 15,57 gram dan panjang akar rata-rata 11 cm.
d. EC dan pH pada system hidroponik rakit apung ini adalah 1,8 dan 4,5.
2. Saran
Semoga praktikum yang akan datang lebih baik lagi. Kita sebaiknya juga diajari membuat nutrisi. Sehingga kita praktikum tidak hanya menanam saja.
























DAFTAR PUSTAKA

Falah, M. A. F. 2006. Produksi Tanaman dan Makanan dengan Menggunakan Hidroponik - Sederhana hingga Otomatis -. http://io.ppi jepang.org/article .php?id=200. Diakses tanggal 17 Desember 2010.
Hartus, T. 2007 Berkebun Hidroponik secara Murah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ridho’ah, M. dan N. R. Hidayati. 2005. Sistem Kontrol Pemberian Nutrisi pada Hidroponik Sistem NFT Berbasis Mikrokontroler. Diakses dari http://digilib.its.ac.id. Tanggal 18 Desember 2010.
Susila, E. T. 2000. Pengembangan Sentra Produksi Sayuran dan Buah di Lahan Pantai melalui Hidroponik. Inovasi Online. Vol 6/XV.
Sutiyoso, Y. 2003. Hidroponik Rakit Apung. Penebar Swadaya. Jakarta
Tanjung, F.A. 2007. Pengaruh Jenis Bahan Dasar Kompos dan Lama Waktu Fermentasi terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) Secara Hidroponik Substrat. Skripsi S1. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar